Biodata

Assalamu’alaikum…

Hallo namaku Gusti Kinanti aku akrab di panggil kinan, aku sekolah di SDΒ Ungggulan AL – YA’LU . Menggambar, menulis, bercerita, membaca Β adalah hobiku. Bersepeda dan merawat kucing kegiatan rutinku di pagi hari. Aku suka mencoba tantangan yang baru baik literasi dan matematika, tidak takut untuk mencoba dan gagal karena berani mencoba itu hebat. Semangat belajar dan berkarya selalu berkibar.

Selingkar

Archive for the ‘Essay’ Category

PESISIR BAHAGIA

sepasang kaki mungil telanjang  mencelup butiran pasir yang bersatu dengan hempasan ombak mungil,  langkahnya tertata ikut irama  membentuk jejak tapak imajinasi,  Kubiarkan kakiku dihempas air. Aku tetap berdiri di atas hamparan pasir di pinggir pantai. Sesaat air meredamnya sebagian. Sesaat juga hilang lenyap dan menjauh.

Pantai bukanlah tempat untuk bekerja, membaca, menulis atau berpikir. Ketika ku merasakan capek dengan banyaknya kegiatan, ku lari ke pantai, Karena ku tau di sana akan ada bisikan ombak yang menenangkan dan memberikan nasihat serta mencari hewan sahabat. Hamparan pasir yang luas untuk berlari atau sekedar membuat bangunan menggunakan pasir, mampu membuat penat hilang sejenak untuk menyambut hangatnya aktifitas.

Gerimis terus rintik – rintik, ku masih terjaga tak memejamkan mata, terlalu asyik menikmati  keseruan perjalanan. Hatiku  bermetamorfosa menjadi  gumpalan awan yang cantik yang di huni segerombolan burung terbang Bersama kawanya membentuk barisan segitiga yang simetris.Tak kubiarkan mata ku melewatkan panorama sawah di kanan dan kiri jalan yang  menjulangkan tubuh  lentiknya tanaman padi dan tebu.

β€œ Tooonnnnnnnnnnnnnn” suara bel bus yang melaju  cepat keluar dari  terminal Blitar. Ku amati hiruk pikuknya jalanan yang menjadi aksesoris perkotaan. Dengan menikmati perjalananku banyak sekali bentangkan pengalaman yang aku dapat, ku mengerti banyak sekali macam rambu – rambu  yang sangat  asing buatku, mulai rambu  jalan menanjak, jalan licin, turunan curam, jalan memutar bahkan jalan berbelok tajam menyerupai huruf S.

Pengalaman perjalanan yang menegangkan semua terobati  pada Pantai Selatan Jawa yang  tak pernah henti-hentinya untuk dieskplor, termasuk di wilayah Jawa Timur. Ada beragam pantai eksotis yang bisa Sweet dikunjungi, salah satunya adalah Pantai Sine Tulungagung. Destinasi wisata di Tulungagung ini banyak dikunjungi karena panoramanya yang indah , banyak nya pohon cemara di tepi pantai sangat memanjakan panca indra.

Pantai di Tulungagung ini memiliki nama yang agak kebarat-baratan yaitu Sine. Seolah-olah seperti Shine, padahal bacanya Sine biasa. Namun, keindahannya memang benar-benar shine bright alias memukau banget. Ombaknya yang besar, air lautnya biru, dan panorama tebing hijau di sekelilingnya membuatku  betah berlama-lama di sini.

Ku ukir nama guru literasiku dengan telunjuk hatiku di pesisir pantai yang putih bersih  ku tulis dengan jelas namamu supaya ombak persahabatan datang untuk membacanya . Dan seluruh panorama alam menjadi peserta kenangan semangat kita. Di tengah lautan namamu akan selalu hidup.

Pantai adalah tempat yang cocok untuk menyimpan kenangan Semangat kita  yang bagai  batu karang di tepi pantai. Tetap kukuh dan tegar tersenyum , meski selalu dihantam kerasnya deburan ombak. Semangat berliterasi dengan senyuman terus mengudara meskipun banyak deadline merambat menghiasai jadwal kita.

Ku berteriak , berlari kencang, melompat tinggi terbang bagaikan burung rajawali yang memiliki sayap dan kaki sangat  kuat. Sesekali ku tidur terlentang di atas pasir dan membiarkan ombak kecil mengerumuniku. Santai sejenak, tenang, nyaman dan segar merasuki tubuhku. Alam bisa sebagai dokter kekakuan hidupku selama ini.

Tujuan lain aku  ke pantai sine juga mencari rasa ingin tahu tentang muara sungai dan ikan glodok yang sudah lama mencabik – cabik rasa penasaranku. Ibu ku mencari dan mengumpulkan banyak  informasi tentang keberadaan ikan glodok. Di Mana Habitat Ikan Glodok? 

            Yach… tepatnya pada ekosistem mangrove atau hutan bakau serta Kawasan yang berlumpur adalah tempat favoritnya. Pantai sine memiliki sudut panorama yang unik yaitu muara  serta terdapat hutan bakau itu tujuan utamaku untuk menangkap ikan glodok. Coba, bayangkan kalau ada ikan yang bisa melompat ke daratan, berjalan bahkan memanjat pohon. Seperti apa sih ikan yang doyan pecicilan keluar dari air, apakah ikan ini bosan di air atau bagaimana? Ikan glodok atau mudskipper ini memang memiliki kebiasaan melompat di lumpur juga sering memanjat pohon bakau.

Laut! laut! laut lepas! biru, segar, dan bebas!

Lautan adalah salah satu dari pemandangan alam paling indah dan menakjubkan

Ada semut di atas lantai

Semut tak suka mentimun

Ayo ke pantai biar  santai

Daripada hanya duduk melamun

SERAT SILATURAHMI KUE APEM

Kue  ini berwarna putih yang sudah sangat merakyat di pulau Jawa, namanya kue apem adalah salah satu jenis kue tradisional Indonesia, citarasa, bentuk dan warnanya sudah berubah dengan perkembangan imajinasi pembuatnya. Ada yang di masak dengan cara di kukus maupun di panggang. Dengan bahan  dasar yang sama memiliki keunikan rasa yang berbeda.

Kue ini umumnya di konsumsi oleh semua masyarakat tua, muda bahkan anak – anak sepertiku. Karena sudah sangat merakyat, menemukanya pun tidak sulit karena masih dijual oleh masyarakat di pasar-pasar tradisional hingga toko-toko kue, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Bahkan sangat mudah sekali untuk membuatnya sendiri.

Kue ini unik, rasanya sangat empuk, lembut dan gurih , serta terbuat dari bahan bahan sederhana seperti tepung beras, gula, ragi dan sedikit pewarna makanan. Tapi Ibuku  memberikan campuran tapai sebagai penambah rasa, sehingga kue Apem lebih terasa nikmat dan beraroma yang sangat cepat sekali merasuk ke pori – pori indera penciumanku, apalagi jika disajikan hangat wahh…. Sangat memanjakan indera perasa, kue apem hangat ini berhasil membuat fungsi indera perasa berkerjasama dengan sempurna, rasa asin, manis, pahit, gurihpun bercampur dan berkolaborasi seimbang untuk menciptakan rasa yang sangat istimewa pada kue apem ini.

Kulihat tepung beras, tapai singkong, ragi instan, gula, pewarna makanan tertata di meja dapur. Ibuku melayangkan 10 jarinya untuk  berkarya dan berekspresi di sebuah wadah inspirasi. Awalnya ku hanya melihat dan berdialog santai, tapi entah mengapa jemariku ini  kesemutan tak kuasa menahan ingin sekali ikut berjalan – jalan di wadah inspirasi. Akhirnya kita memulai membuat kue apem kukus mini yang cantik dengan tujuan kita bisa nikmati bersama selagi  hangat. Sehingga tercipta pengalaman yang sungguh berkesan.

Sesederhana ini kah membuatnya? pikirku sedikit terheran, tapi sungguh luarbiasa di balik kesederhanaan kue apem ini, memiliki filosofi yang sangat tinggi. Hampir di seluruh Jawa bisa kita dapati kue jenis ini. Bahkan pada saat menjelang Ramadhan nama kue apem akan menjadi buah bibir yang sangat manis. Karena seringkali aku mendapat kiriman kue apem dari tetangga sekitar rumahku. Selain menyambut bulan puasa, kue apem seringkali ada mulai dari acara syukuran, hingga kematian.

Aku pernah mendapat materi pelajaran di sekolah dari Bu guru tentang tradisi megengan,  konon kata apem sendiri diyakini berasal dari bahasa Arab yaitu “afuan” atau “afuwwun” yang berarti pengampunan. Orang Jawa menyederhanakan penyebutannya sebagai “Apem” sehingga dalam filosofi Jawa, kue apem ini merupakan simbol pengampunan atau mohon ampun dari berbagai kesalahan.

Nah tradisi megengan ini dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, selamatan menjelang bulan suci yang dinanti-nantikan. Biasanya dilakukan di masjid, tapi banyak juga yang menyelenggarakan di rumah, mereka mengundang kerabat dan tetangga dekatnya untuk berdoa dan santap makan bersama. Menurut ceritanya sih, tradisi megengan ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga saat penyebaran agama Islam di Jawa yang dilaksanakan sebagai bentuk syukur atas nikmat Yang Maha Kuasa.

Namun, setiap kota memiliki filosofi masing-masing tentang kue apem ini, beda lagi kalaui di Jogja, kue ini digunakan dalam peringatan kenaikan tahta, sementara masyarakat Cirebon memaknai apem sebagai wujud kebersamaan, sehingga kue ini sering dibagikan cuma-cuma pada tetangga sekitar saat bulan Safar.

Wah ternyata banyak sekali ya keistimewaan kue apem ini, selain rasa yang lezat juga memiliki history yang memikat. Dalam setiap kandungan serat kue apem juga terdapat silaturahmi sejuta umat, sebagai jembatan saling minta maaf antar masyarakat, dan sebagai pintu untuk saling memaafkan antar sesama.

Mepe kloso ning cedak gapuro

Ditali rapet nganggo kawat

Kue apem iku tondo njaluk sepuro

Yen ora berhasil kudu tetep semangat

***

Buku Dan Pena Inspiratifku

Buku adalah jendela dunia di mana kita bisa melihat isi dunia tanpa melakukan perjalanan, hanya cukup membaca sebuah halaman, Buku itu bagai seorang ibu bagiku, sedangkan pena adalah teman setiaku. Karena buku memberiku banyak pengetahuan dan pengalaman inspiratif orang cerdas di dunia. Bahkan menjadikan kita sebagai anak kritis dengan kosakata baru menimbulkan rasa ingin tahu sehingga setia membaca buku.

Hobi membaca merupakan satu di antara kesukaanku, yang banyak mendatangkan manfaat positif. Cukup di rumah dengan membaca , apalagi di masa pandemi virus COVID-19 seperti sekarang, membaca buku merupakan sumber hiburan yang sangat murah sekali, karena kita tak perlu menyiapkan banyak biaya. Kapanpun dan di manapun, kita bisa membaca virtual dari berbagai aplikasi maupun membuat perpustakaan mini di rumah dengan berbagai koleksi buku yang kita punya.

Sedikit cerita kisah awal perjalananku dengan Buku dan penaku, aku siswa kelas 1 SD yang tersadar dengan pentingnya literasi membaca dan menulis sejak duduk di bangku TK, buku membimbingku untuk menjadi kreatif dan kritis dalam  segala kegiatan untuk tetap produktif berkarya. Hanya dengan berawal dari kegiatan membaca, membaca, membaca kemudian menulis.

Buku dan pena senantiasa berdampingan, seperti aku dan guruku maupun Ibuku yang selalu melangkah berdampingan. Melewati masa tidak tahu menjadi tahu, yang awalnya gelap akan pengetahuan dengan buku kita menjadi berbinar yang memancarkan sinar, Ibuku  pernah berkata buku itu bisa menyihir kita dengan bahasa – bahasa  manisnya. Membentuk karakter kita, dan beliau berpesan bacalah buku sesuai usiamu yang memberikan pesan moral yang positif untuk membangun karakter di usiamu yang masih kecil.

Buku akan mempengaruhi  pola pikir kita, karena setiap membaca buku meskipun buku sudah lepas dari kita, tapi isi dari buku akan tetap menempel kuat di pikiran kita. Kemudian kita mengikat ilmu dengan goresan – goresan lincah pena dari tangan kita, bait demi bait , larik per larik  bahkan berlembar – lembar di buku kemudian  melukiskan setiap kehidupan kita menjadi sebuah karya.

Yachhh, kumulai setiap karyaku dengan berliterasi yang sangat sederhana, yaitu merangkum setiap pelajaran dari sekolah dengan merangkum atau infografis. Bahkan membuat mind mapping membuat  kita aktif membaca dan menyimpan materi dalam pikiran kita untuk  melatih daya ingat kita dengan sebuah tulisan. Setiap hari ku selalu menyempatkan membaca nyaring di letsreadasia dengan aneka bahasa. Yaitu bahasa indonesi, jawa dan english, untuk menambah wawasan kita dengan memahami arti bahasa serta membangun tutur kata menjadi sopan dan lebih  baik.

Tidak sampai disitu semangatku berliterasi, aku  membuat jadwal rutin yaitu  membaca 5 hari 1  buku cerita karena aku harus membagi waktuku dengan banyak kegiatan dan menyelesaikan tugas di sekolah. Aktif mengikuti kelas zoom read aloud dari penulis buku anak maupun penerbit. Untuk mendapat pengalaman dari berbagai mentor yang sudah ahli di bidangnya. Setiap ada waktu luang atau liburan, aku semangat mengikuti beberapa pelatihan kelas menggambar, membuat komik, cergam, bahkan pelatihan menulis siswa sasisabu dari tim MediaGuru.

Menulis adalah seni jemari lentik kita, menulis dari hal sederhana setiap kejadian pengalaman yang kita alami setiap hari akan menjadi kumpulan memory yang berkesan dalam hidup kita, suatu saat akan menjadi ide luar biasa dari  karya tulis kita, setiap ada waktu kosong ku menulis pengalaman seruku di agenda harianku, terkadang juga kumenulis puisi dan pantun, semua terasa asyik asal kita melakukan dengan hati senang dan semangat.

Buku dan pena adalah sarana paling berharga yang mengubah jalanya cerita, banyak cerita perubahan perjalanan yang berawal dari buku dan pena bisa merubah kebodohan menjadi kepintaran, merubah tidak tahu menjadi tahu dan paham akan ilmu, dari tidak bisa berkarya akhirnya memiliki banyak karya, buku dan pena adalah lentera kehidupan yang menerangi manusia dan membuat manusia terus bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa karena tidak  membiarkannya larut dalam kebodohan dan buta aksara.

Memburu banyak ilmu dengan buku

Kutulis kisah inspiratif dengan riang hati

Ayo kirim naskah di mediaguru

Mencari pengalaman seru bersama  IKAPI

JIWA MUDA SUKA BERKARYA

Jiwa Muda Suka Berkarya

Satu dua tiga dan empat

Pramuka itu hemat cermat

Ambil korek pasanglah lilin

Pramuka selalu dispilin

            Pasti tak asing lagi  pantun pramuka  di atas yang sering dinyanyikan saat  kegiatan pramuka, Yach Pantun ciptaan Bapak AT. Mahmud Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti Jiwa Muda yang Suka Berkarya. Yang muda yang berkarya supaya di kemudian hari mampu memiliki mahakarya.

            Saat ini  usiaku 7 tahun bergabung dengan Pramuka Siaga  yang di bimbing oleh Bunda Cristin di sekolahku. Dalam Pramuka mengajarkan kedisiplinan, keteguhan, kepemimpinan, kesetiakawanan, dan cinta Tanah Air. Anak-anak Pramuka juga dikenal penuh semangat.

            Saat Pandemi, Pramuka tak gentar  untuk mampu berkarya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, memunculkan kreativitas di masa pandemi melalui teknologi dengan semangat yang tinggi. Dengan  berbagai macam aktifitas daring  yang kutemui. sangat seru sekali mulai menyanyi sampai tali temali. Tak hanya itu pramuka mempunyai segudang pengalaman ilmu, mengajarkan sopan santun, tutur kata yang baik  dengan sikap disiplin, kupelajari juga kode kehormatan  bagi seorang pramuka siaga yaitu Dwi Satya dan Dwi Darma.

            Meskipun ku baru mengenal lambang pramuka, buah kelapa yang baru tumbuh, memiliki akar menancap kuat. Sama seperti semangatku yang kuat, berlatih mendapatkan Ide karya  yang luas, supaya  tidak menjadi generasi seperti air diatas daun talas yang mudah goyang kekanan dan kekiri tidak tegas.
Ada tunas yang tumbuh ke atas, pramuka harus mengejar mimpi setinggi  langit. Pramuka harus mengobarkan bendera semangat berkarya membuat hasta karya.

            sekarang waktunya membangkitkan gerakan pramuka di zaman teknologi. Pramuka juga harus mampu memunculkan kreativitas. Kegiatan sederhana yang melatih kemandirian pun kudapatkan dengan memakai pakaian rapi, menjaga kebersihan diri, melipat selimut dan merapikan tempat tidur secara mandiri bahkan menulis rapi nama perangkat  pemerintahan di lingkunganku. Tak terasa aku sudah belajar mengenal nama Rt, Rw, Lurah sampai Camat  yang selama ini belum aku kenal.

            Kenangan termanis yang tak akan terlupa, saat belajar baris berbaris  secara virtual pun sungguh asik,  berdiri tegap berseragam coklat muda dan coklat tua, memancarkan semangat yang bergelora. Menjadi ksatria yang pantang menyerah berkarya untuk Sekolah, Nusa dan Bangsa.

            Anak pramuka punya banyak cerita

            Ada suka ada duka terkadang cinta

            Praja muda karana

            Jiwa muda suka berkarya.

            Di leher, merah putih melingkar

            Wahai tunas muda

            Semangat tak pernah pudar

            Salam Pramuka.

AKSARA KARYA TANPA BATAS

Larik aksaraku enggan kugoreskan pada kertas putih, bukanya aku malas tapi aku bingung menggoreskan tinta bermakna dengan usiaku waktu itu, yang masih sangat jauh untuk beranjak berkarya, bagaimana aku berbicara? apalagi  bercerita, yang bukan untuk diriku sendiri, melainkan juga untuk orang lain, penghuni aksara bumi. Bukanya agar mereka mengerti tentang semua  kehidupanku, kegiatanku, bahkan isi hatiku,  tapi agar mereka tahu ada orang lain yang memiliki perasaan yang sama denganku, atau berbagi pengalamanku.

Perjalanan berkaryaku tidak datang begitu saja, kulewati lembah proses yang sangat dalam, butuh semangat dari seluruh sudut organ tubuhku. Kenapa demikian? karena aksara berbicara, perihal apa saja yang ingin ku bagikan. Aksara tak memiliki batas dimana? Kemana? dan kapan aku harus berhenti beraksara. Tak memiliki batas perasaan yang akan ku ceritakan. Aksara akan selalu bicara dalam duka dan suka citanya. Bebas berekspresi tanpa batas bagai elang terbang berotasi mengelilingi bumi yang dianggapnya pantas untuk mengisi.

Kisahku sangat haru untuk kubagikan, Doa yang kupanjatkan pada Sang Pencipta menjadi bimbingan atas segala kegiatanku. Suntikan semangat dan panutan guruku yang bertubi – tubi menghiasi karyaku, senyuman para mentor membagikan pengalaman dan ilmu sesuai keunikan masing – masing, menancap di akar ubun- ubunku, aroma rasa hasil tangan kreatif Ibuku menjadi nutrisi kesehatanku. Yahhh itulah berproses untuk menjadi lebih baik tanpa kesombongan.

Ku mulai berkarya saat usiaku 5 tahun, beranjak dari belajar menulis kalimat bersama guruku, banyak kesalahan dalam tulisanku, tapi selalu mendapat pujian darinya, supaya aku tetap percaya diri dengan tulisanku. Ku mulai di motivasi untuk berliterasi sederhana, membaca, mendongeng, bercerita dan menggambar. Dari aktif kegiatan rutin itu, aku mendapat banyak sekali pengalaman baru. Tak terasa aksarapun semakin menumpuk padaku, ku coba mengikuti berbagai lomba menulis untuk melatih berfikirku mengolah kosakata baru sesuai tema lomba itu.

Aksaraku tak datang tiba – tiba tanpa banyaknya pengalaman yang ku lalui, bersama orang – orang di sekitarku. Kupetik banyak sekali aksara mempesona dari hubungan eratku dengan guruku, kita saling bertukar aksara penuh makna lewat pesan singkat. Memiliki arti yang sangat penting bagiku. Sehingga kisah harianku bersamanya menjadi history dalam ajang lomba MediaGuru dengan judul Bapak Ibu Guru Kami Rindu Belajar dan Bertemu. Ku ingat  jasa – jasa semua guruku dan kepribadian baiknya, tutur lembut kata-katanya, penuh makna nasehat semangatnya, tiada batas tiada tepi. Pengalaman itu menjadi sebuah karyaku dengan judul Jasa Guru Membekas Di Hati.

Selain itu pengalaman kegiatan sekolah virtual yang aku simpan dengan rapi, setiap kegiatan tugas harian aku laksanakan dengan semangat untuk mendapatkan hasil terbaik, dan mengobati semua rasa Lelahnya. Pengalaman itu aku susun secara unik dan asyik menjadi sebuah karya buku tunggalku Diari Virtual.

Semua kegiatanku, kisah ekspresif guru dan temanku serta gerak tingkahku, bahkan ekspresi beberapa guru di sekolahku, ku tulis di buku harianku setiap hari dan aku jadikan senjata perangku saat aku menulis cerita, puisi bahkan pantun. tak sedikit karyaku berupa Nonfiksi yang aku sajikan dengan kosakata yang unik untuk mempercantik dan mempengaruhi suasana hati para pembaca tulisanku.

Semua berkat pengalaman yang aku dapat secara nyata di kehidupanku bahkan tugas hasta karya bersama bunda Kristin pun, menghiasai buku antologi Pramuka Muda Berkarya, dari hal sederhana menjadi sebuah karya, yang luar biasa di ajang kompetisi siswa MediaGuru. Muliakan gurumu dengan karya – karya unikmu, sehingga terus tercipta semua jasanya yang tak akan pernah hilang, apabila kita tuangkan dalam karya tulisan. Idolakan semua gurumu karena jika kita memuliakan guru yang memberi ilmu pada kita, maka  kita akan di muliakan banyak orang. Mereka tersenyum dan bangga akan karya tulisan kita.

Waktu berlibur  ke pantai pun bisa menjadi sebuah karya tulisan Aku Berwisata Aku Bahagia, keseruan mencari ikan glodok  di pantai pun menjadi sebuah karya picture book dengan judul teka teki ikan glodok. Dan masih banyak lagi karya komik dan karya gambarku berkat ide sederhana dari setiap kegiatanku yang selalu aku syukuri dan aku nikmati dengan semangat tanpa pamrih.

Aku juga selalu merasa haus dan tak pernah kenyang akan kegiatan literasi, tak berhenti di satu materi, ku ikuti kelas menulis dari berbagai acara webinar dan zoom dari sharing berbagai kelas online. Read aloud, mendongeng, menulis cerita anak, membuat komik, menggambar bahkan kelas literasi dengan pemecahan kasus yang ada pada sebuah cerita. Aku mencari pengalaman baru untuk meluaskan aksara dari berbagai mentor penulis buku anak maupun ilustrator yang sudah ahli di dunia masing – masing. Ku siapkan hari khusus sabtu dan minggu. Yang tak mengganggu hari padatku di sekolah. Semua kulakukan untuk meningkatkan kosakataku.

Tak lupa ku menyempatkan membaca meskipun hanya beberapa lembar setiap hari, karena kesibukan sekolah dan les yang aku miliki tak menjadikan alasanku untuk meninggalkan membaca. Kuciptakan semedi menulis yang rutin  untuk mengembangkan ideku. Yang aku takutkan bukan karena tulisanku jelek tetapi melainkan tulisanku tidak selesai, jadi tamat adalah target utamaku. Jadi tidak ada alasan kita tidak membaca atau menulis karena tidak ada waktu. Kupernah membaca caption Dee Lestari β€œOrang – orang kreatif yang sukses biasanya berhadapan dengan isu kurang waktu, bukan kurang ide.”

Gejolak pribadiku tentang menulis memang dari kebiasaanku dengan dunia tulisan dan literasi. Tentu saja tentang menulis menjadi biasa, karena saat ini ku sedang menikmati gejolak asik menulis cerita, semua aku tulis dengan bebas sesuai gaya dan imajinasiku. Yahhhhhhh karena terkadang aksara tak butuh jadi pemanis kata, yang hanya membuat kita terpana bahkan terpesona, lalu lupa! aksara hanya ingin menjadi makna. Ya, bermakna bagi jiwa, bagi kita agar mampu berguna bagi sesama.

Aksara, kau memang ditakdirkan menjadi sekumpulan kata, Meski kadang tanpa makna, kau terus berkuasa atas segala isi dunia. Tapi percayalah, aksara yang ingin kugores pada secarik kertas putih ini Menjadi kata yang keluar dari isi jiwa, pengalaman, perjuangan tiada putus asa. Kamu seorang siswa, menulislah. Kamu seorang guru, menulislah. Kamu seorang polisi, menulislah. Kamu seorang tentara, menulislah. Kamu seorang dokter, menulislah. Apapun profesimu maka Menulislah dan lihatlah bagaimana menulis mengubahmu menjadi sosok yang baru.

Menulislah mulai dari sekarang.

Ikan bakar tanpa merica

Di makan bersama sambal terasi

Rajinlah menulis dan membaca

Menghasilkan aksara imajinasi.

SANG LITERASI CILIK

Namaku gusti kinanti
Murid sang guru literasi
Kebanggaan ibu pertiwi
Pejuang literasi yang abadi

Malam semakin larut dan aku belum berhasil memejamkan mata. Sesekali angin malam menembus kulitku, kuusap sweeter panjang yang aku kenakan.Untuk memberi rasa hangat, di tubuhku yang mungil ini. Ku duduk bersila tepat di depan meja kayu lipat kecilku.Yang sudah sedikit bergoyang satu kaki mejanya. Di temani lampu sorot belajar yang memberiku penerangan.Saat Kubaca lembar per lembar buku yang berjudul, Kereta Malam Menuju Harlok yang di tulis oleh bunda Maya Lestari GF.

β€œ Belum ngantuk?”, ibuku menghampiriku, duduk di sampingku
Aku menggelengkan kepala sambil memeluk buku yang sedang aku baca.
Sejak kecil usiaku belum beranjak 5 tahun, aku mulai dikenalkan dengan literasi yang sederhana yaitu belajar membaca, ku mulai dengan satu lembar satu hari, kemudian meningkat menjadi dua lembar sehari. Sampai buku yang aku baca selesai. Aku menjadi sangat lancar membaca, tidak berhenti sampai di satu buku. Ku melanjutkan membaca buku tentang Fauna Pedia. Karena ketertarikanku tentang hewan sangat besar.
Di situ aku mengenal banyak kosakata baru, dan nama latin dari berbagai macam jenis hewan di Dunia. Selain membaca, aku di biasakan oleh ibuku untuk belajar menulis, aku ingat sekali tulisan pertamaku yang aku tulis di masa TK A, kalimat sederhana di buku halus. Bu Susan sarapan pagi, Bu Firo memakai kerudung bunga, Bu Husna membeli sepatu baru. Saat itu aku sudah bisa menulis sangat bahagia sekali.
Aku berlatih menyalin bacaan dari berbagai buku, terkadang ibuku yang membacakan, kemudian aku belajar menyimak dan menulisnya supaya bisa lebih lancar lagi membaca dan menulis. Setiap hari aku selalu mendapat jadwal rutin membaca dan menulis dari ibuku.
Setelah beranjak TK B, aku masih tetap dengan jadwal rutinku. Membaca dan menulis, ibuku juga mengajakku di sela – sela jam kosong untuk mendongeng dengan boneka tangan.
β€œ kinan, mau bermain seru sama ibu gak nih?”
β€œ mainan seru apa bu β€œ seruku
β€œ kemarin kan baru membeli boneka tangan binatang gajah, ayo mendongeng bersama” kata ibuku
β€œ ayooo…..ayooo” ku jawab lantang dan penuh gembira. Ku cepat berlali menggambil semua boneka tanganku dan mendongeng bersama ibuku.
Senang rasanya aku memiliki ibu seperti itu, yang selalu bisa bermain dan belajar bersamaku, ibuku juga sering membacakan buku dan dongeng sebelum tidur untukku. Bahkan mendampingiku membaca nyaring cerita, di Room to Read. Aku suka sekali baca buku cerita, membaca nyaring dan melihat video cerita di literacycloud.
Nah setelah aku berusia 5 tahun, aku rutin mengikuti kelas online Selingkar ( Sekolah Literacy Sayang keluarga ). Kegiatanya sangat seru dan asik setiap aku mengikutinya. Karena selalu di bacakan dongeng, kemudian menggambar sesuai imajinasiku, menyimpulkan cerita dongeng, bahkan sampai membuat infografis dari cerita dan mempresentasikanya.
Di masa TK B juga aku di pertemukan dengan guru di sekolah. Entah kebetulan atau sudah memang jalan hidupku, ibuku di motivasi untuk mencoba mengajariku, membaca buku cerita tanpa gambar. Kemudian menulis cerita tentang semua pengalamanku. Setiap tugas sekolah beliau selalu meneropong dan mengoreksi tulisanku ada yang kurang satu huruf atau lupa memberi tanda titik di akhir kalimat.
Tak lelah membimbingku belajar mengenal tanda baca dan huruf besar setelah tanda baca. Merangkum sebuah materi, mencari arti kosa kata asing dalam materi. Sampai memotivasiku untuk belajar menulis cerpen. Dengan selalu mengoreksiku dan mengingatkan kosakataku yang tidak sesuai KBBI. Setiap hari kegiatanku menulis di buku harianku, terkadang aku di beri latihan menulis dari lucky note oleh guruku. Untuk meneruskan cerita dari awal paragraf yang beliau kirim melalui w.a ibuku. Menjadi sebuah cerpen yang bisa membuatnya tersenyum.
Dari kegiatan rutin bersama guruku itu aku semakin percaya diri untuk menulis ceritaku sendiri, aku terus berlatih meskipun berawal dari cerita harianku, yang aku tulis di blog pribadiku. Ataupun di buku tulisku yang di susun rapi oleh ibuku. Aku juga mempunyai target, semangat membaca dua hari satu buku. Supaya aku memiliki banyak kosakata baru.
Guruku terus bersemangat membimbingku, beliau sangat keren dan hebat tidak hanya memancingku untuk memulai belajar menulis cerita tapi juga memberi pengalaman untuk mencoba berbagai lomba menulis cerpen, membaca monolog dan membaca puisi.
Suatu ketika guruku berbagi cerita tulisanya di Gurusiana, aku mulai penasaran untuk membacanya, setiap hari aku teropong di waktu luangku di jam istirahat setelah selesai sekolah online. Setiap ada cerita yang baru yang beliau tulis aku selalu membacanya bersama ibuku.
Cekring….suara hp ibuku berbunyi, ibuku melihatnya. Ada link lomba menulis siswa MediaGuru ( Agustus 2021 ) yang di kirim oleh guruku.
β€œ Ayo nan…. kelas 1 SD siapa takut ?” seru bu guruku dalam chatnya, kubaca chat bu guruku sambil kutersenyum.
Kemudian aku baca link lombanya, kebetulan sekali aku mempunyai banyak kenangan bersama bu guruku apalagi kalau urusan sama Rindu pasti aku sangat rindu berat denganya. Kemudian aku meminta bantuan kepada ibuku untuk membuat email, memakai namaku sendiri. Setelah aku memenuhi syarat pertama yaitu mempunyai akun di sasisabu. Ku mulai aktif menulis cerita di sana, sangat senang sekali aku bisa berbagi cerita di sasisabu, meskipun ceritaku masih banyak menulis cerita non fiksi. Karena ku masih belajar untuk terus menulis cerita yang lebih baik lagi.
Aku mulai mengumpulkan data – data untuk lomba menulis, Ku buka kembali buku luky note, riwayat w.a bu guruku, bahkan dokumentasi materi sekolah yang tertata rapi di folder laptopku. Ku mulai menulis cerita, apa yang memang aku rasakan. Betapa sangat rindunya aku, ingin bertemu dengan Bu Guruku yang sudah banyak membimbingku. Hanya lewat media HP, tidak membuatnya patah semangat untuk terus membimbingku, untuk menjadi lebih dekat dengan Buku, menjadikan menulis kegiatan rutinku, mengubah bahasaku menjadi lebih halus dan manis di dengar sesuai ketentuan KBBI.
Meskipin aku masih kelas 1 SD, aku bangga dan bersyukur bisa di perkenalkan dengan guruku. Beliau terus membimbingku untuk berliterasi sejak kecil. Akhirnya aku sangat senang sekali, bisa memberi hadiah kepadanya. Hadiah yang sangat berkesan, yang bisa di kenangnya sepanjang zaman. Aku berhasil terpilih dari 100 peserta terbaik di lomba tersebut.
β€œBu Firoh kinan berhasil menulis nama kinan, di buku sasibabu MediaGuru, Bapak – Ibu guru, kami Rindu Belajar dan Bertemu”.
β€œwah selamat ya, kinan hebat β€œ di pesan chat beliau memberi ucapan selamat padaku. Dan terus memberi dukungan motivasi terbaiknya.
Rasa senang tak bisa ku teriakan, di beri pengalaman literasi yang membanggakan, di usiaku yang belum genap 7 tahun ini. Ku bisa merasakan betapa asiknya berliterasi, tidak hanya sekedar pandai membaca buku, bisa menulis, membaca puisi, membaca monolog, ada rasa unik yang kutemukan di hatiku. Rasa bahagiaku dengan berpantun, bersama guruku membuat perasaanku lebih dekat denganya, menyatukan pikiranku dengan pikiranya, melalui kegiatan berbalas pantun.
Tapi perjalananku, tidak semudah yang aku tulis di cerita ini, banyak sekali halanganya. Mulai sedikit bosan, rasa capek menyelimutiku karena banyaknya jadwal les dan tugas di sekolahku, tapi semua harus kubawa pergi perasaan itu. Apabila kita ada kemauan dan semangat yang besar, kita harus menjalani dengan ceria, riang dan gembira. Kita yakin bisa untuk meluangkan sedikit waktu untuk membaca dan menulis.
Aku pernah membaca ada pepatah sedikit demi sedikit lama – lama akan menjadi bukit. Nah kalau Kita menulis cerita sedikit demi sedikit lama – lama kita bisa menghasilkan sebuah buku dari kumpulan cerita kita. Nah ayo teman – teman kita semangat tekatkan niat, untuk ceria membaca, semangat menulis dan semangat berkarya. Salam literasi.