Biodata

Assalamu’alaikum…

Hallo namaku Gusti Kinanti aku akrab di panggil kinan, aku sekolah di SD Ungggulan AL – YA’LU . Menggambar, menulis, bercerita, membaca  adalah hobiku. Bersepeda dan merawat kucing kegiatan rutinku di pagi hari. Aku suka mencoba tantangan yang baru baik literasi dan matematika, tidak takut untuk mencoba dan gagal karena berani mencoba itu hebat. Semangat belajar dan berkarya selalu berkibar.

Selingkar

Author Archive

LITERASI MERDEKA

( G.Kinanti )

Dulu aku buta dengan angka
Buta dengan aksara
Pena pun bingung menulis  cerita
Karena tak gemar membaca

Secarik kertas telah  ibu berikan
Kenapa tak engkau mainkan
Di dalamnya banyak dekorasi tulisan
Tapi, mengapa kertas itu hanya kau simpan ?

Ku bangkitkan semangatku
Wawasan luas telah  menantiku
Seluruh dunia terukir dalam buku
Membaca menjadi budaya literasiku


Ku baca semua samudra ilmu
Kisah dunia bahkan binatang lucu
Ikhlas setiap halaman tanpa jemu
Aku berdialog untuk menjadi sahabatmu

Sekarang kita sudah merdeka
Membaca apapun yang kita suka
Literasi di berbagai media
Literasi  merdeka membaca

Malang, 23 Agustus 2022

MERDEKA DI ATAS KARYA


Dulu….
Kau sibuk dengan bambu
Melawan mesin mesiu
Langkahmu terus maju
Perlahan melepas belenggu

Ujung bambupun menjadi saksi
Nusantara terus beraksi
Bersimbah darah penuh ambisi
Merdeka..!!! seluruh penjuru dimensi

Merah putihku
Semangatmu seperti geni
Membakar pasukan kompeni
Siang malam menantang maut
Kilatan bambu runcing menyulut
Koloni yang kian semrawut

Menyimak sejarah empat lima
Ruh dan jiwa tak ada harganya
Merdeka…!!
Merdeka…!!
Merdeka !!!
Mereka koma, bahkan tiada
Nama harumnya pupus seketika
Terkalahkan kura – kura ninja bahkan artis idola
Ku kibarkan syair merdeka
Alunan bait puisi Indonesia
Sumpah anak merdeka
Raih prestasi segunung, sepulau bahkan benua

Kini berkibar syair sang saka
Aku bisa membaca
Aku bisa berkarya
Aku anak Indsonesia
Merdeka..!!!
Literasi tiada tara.

JIWA MUDA SUKA BERKARYA

Jiwa Muda Suka Berkarya

Satu dua tiga dan empat

Pramuka itu hemat cermat

Ambil korek pasanglah lilin

Pramuka selalu dispilin

            Pasti tak asing lagi  pantun pramuka  di atas yang sering dinyanyikan saat  kegiatan pramuka, Yach Pantun ciptaan Bapak AT. Mahmud Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti Jiwa Muda yang Suka Berkarya. Yang muda yang berkarya supaya di kemudian hari mampu memiliki mahakarya.

            Saat ini  usiaku 7 tahun bergabung dengan Pramuka Siaga  yang di bimbing oleh Bunda Cristin di sekolahku. Dalam Pramuka mengajarkan kedisiplinan, keteguhan, kepemimpinan, kesetiakawanan, dan cinta Tanah Air. Anak-anak Pramuka juga dikenal penuh semangat.

            Saat Pandemi, Pramuka tak gentar  untuk mampu berkarya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, memunculkan kreativitas di masa pandemi melalui teknologi dengan semangat yang tinggi. Dengan  berbagai macam aktifitas daring  yang kutemui. sangat seru sekali mulai menyanyi sampai tali temali. Tak hanya itu pramuka mempunyai segudang pengalaman ilmu, mengajarkan sopan santun, tutur kata yang baik  dengan sikap disiplin, kupelajari juga kode kehormatan  bagi seorang pramuka siaga yaitu Dwi Satya dan Dwi Darma.

            Meskipun ku baru mengenal lambang pramuka, buah kelapa yang baru tumbuh, memiliki akar menancap kuat. Sama seperti semangatku yang kuat, berlatih mendapatkan Ide karya  yang luas, supaya  tidak menjadi generasi seperti air diatas daun talas yang mudah goyang kekanan dan kekiri tidak tegas.
Ada tunas yang tumbuh ke atas, pramuka harus mengejar mimpi setinggi  langit. Pramuka harus mengobarkan bendera semangat berkarya membuat hasta karya.

            sekarang waktunya membangkitkan gerakan pramuka di zaman teknologi. Pramuka juga harus mampu memunculkan kreativitas. Kegiatan sederhana yang melatih kemandirian pun kudapatkan dengan memakai pakaian rapi, menjaga kebersihan diri, melipat selimut dan merapikan tempat tidur secara mandiri bahkan menulis rapi nama perangkat  pemerintahan di lingkunganku. Tak terasa aku sudah belajar mengenal nama Rt, Rw, Lurah sampai Camat  yang selama ini belum aku kenal.

            Kenangan termanis yang tak akan terlupa, saat belajar baris berbaris  secara virtual pun sungguh asik,  berdiri tegap berseragam coklat muda dan coklat tua, memancarkan semangat yang bergelora. Menjadi ksatria yang pantang menyerah berkarya untuk Sekolah, Nusa dan Bangsa.

            Anak pramuka punya banyak cerita

            Ada suka ada duka terkadang cinta

            Praja muda karana

            Jiwa muda suka berkarya.

            Di leher, merah putih melingkar

            Wahai tunas muda

            Semangat tak pernah pudar

            Salam Pramuka.

AKSARA KARYA TANPA BATAS

Larik aksaraku enggan kugoreskan pada kertas putih, bukanya aku malas tapi aku bingung menggoreskan tinta bermakna dengan usiaku waktu itu, yang masih sangat jauh untuk beranjak berkarya, bagaimana aku berbicara? apalagi  bercerita, yang bukan untuk diriku sendiri, melainkan juga untuk orang lain, penghuni aksara bumi. Bukanya agar mereka mengerti tentang semua  kehidupanku, kegiatanku, bahkan isi hatiku,  tapi agar mereka tahu ada orang lain yang memiliki perasaan yang sama denganku, atau berbagi pengalamanku.

Perjalanan berkaryaku tidak datang begitu saja, kulewati lembah proses yang sangat dalam, butuh semangat dari seluruh sudut organ tubuhku. Kenapa demikian? karena aksara berbicara, perihal apa saja yang ingin ku bagikan. Aksara tak memiliki batas dimana? Kemana? dan kapan aku harus berhenti beraksara. Tak memiliki batas perasaan yang akan ku ceritakan. Aksara akan selalu bicara dalam duka dan suka citanya. Bebas berekspresi tanpa batas bagai elang terbang berotasi mengelilingi bumi yang dianggapnya pantas untuk mengisi.

Kisahku sangat haru untuk kubagikan, Doa yang kupanjatkan pada Sang Pencipta menjadi bimbingan atas segala kegiatanku. Suntikan semangat dan panutan guruku yang bertubi – tubi menghiasi karyaku, senyuman para mentor membagikan pengalaman dan ilmu sesuai keunikan masing – masing, menancap di akar ubun- ubunku, aroma rasa hasil tangan kreatif Ibuku menjadi nutrisi kesehatanku. Yahhh itulah berproses untuk menjadi lebih baik tanpa kesombongan.

Ku mulai berkarya saat usiaku 5 tahun, beranjak dari belajar menulis kalimat bersama guruku, banyak kesalahan dalam tulisanku, tapi selalu mendapat pujian darinya, supaya aku tetap percaya diri dengan tulisanku. Ku mulai di motivasi untuk berliterasi sederhana, membaca, mendongeng, bercerita dan menggambar. Dari aktif kegiatan rutin itu, aku mendapat banyak sekali pengalaman baru. Tak terasa aksarapun semakin menumpuk padaku, ku coba mengikuti berbagai lomba menulis untuk melatih berfikirku mengolah kosakata baru sesuai tema lomba itu.

Aksaraku tak datang tiba – tiba tanpa banyaknya pengalaman yang ku lalui, bersama orang – orang di sekitarku. Kupetik banyak sekali aksara mempesona dari hubungan eratku dengan guruku, kita saling bertukar aksara penuh makna lewat pesan singkat. Memiliki arti yang sangat penting bagiku. Sehingga kisah harianku bersamanya menjadi history dalam ajang lomba MediaGuru dengan judul Bapak Ibu Guru Kami Rindu Belajar dan Bertemu. Ku ingat  jasa – jasa semua guruku dan kepribadian baiknya, tutur lembut kata-katanya, penuh makna nasehat semangatnya, tiada batas tiada tepi. Pengalaman itu menjadi sebuah karyaku dengan judul Jasa Guru Membekas Di Hati.

Selain itu pengalaman kegiatan sekolah virtual yang aku simpan dengan rapi, setiap kegiatan tugas harian aku laksanakan dengan semangat untuk mendapatkan hasil terbaik, dan mengobati semua rasa Lelahnya. Pengalaman itu aku susun secara unik dan asyik menjadi sebuah karya buku tunggalku Diari Virtual.

Semua kegiatanku, kisah ekspresif guru dan temanku serta gerak tingkahku, bahkan ekspresi beberapa guru di sekolahku, ku tulis di buku harianku setiap hari dan aku jadikan senjata perangku saat aku menulis cerita, puisi bahkan pantun. tak sedikit karyaku berupa Nonfiksi yang aku sajikan dengan kosakata yang unik untuk mempercantik dan mempengaruhi suasana hati para pembaca tulisanku.

Semua berkat pengalaman yang aku dapat secara nyata di kehidupanku bahkan tugas hasta karya bersama bunda Kristin pun, menghiasai buku antologi Pramuka Muda Berkarya, dari hal sederhana menjadi sebuah karya, yang luar biasa di ajang kompetisi siswa MediaGuru. Muliakan gurumu dengan karya – karya unikmu, sehingga terus tercipta semua jasanya yang tak akan pernah hilang, apabila kita tuangkan dalam karya tulisan. Idolakan semua gurumu karena jika kita memuliakan guru yang memberi ilmu pada kita, maka  kita akan di muliakan banyak orang. Mereka tersenyum dan bangga akan karya tulisan kita.

Waktu berlibur  ke pantai pun bisa menjadi sebuah karya tulisan Aku Berwisata Aku Bahagia, keseruan mencari ikan glodok  di pantai pun menjadi sebuah karya picture book dengan judul teka teki ikan glodok. Dan masih banyak lagi karya komik dan karya gambarku berkat ide sederhana dari setiap kegiatanku yang selalu aku syukuri dan aku nikmati dengan semangat tanpa pamrih.

Aku juga selalu merasa haus dan tak pernah kenyang akan kegiatan literasi, tak berhenti di satu materi, ku ikuti kelas menulis dari berbagai acara webinar dan zoom dari sharing berbagai kelas online. Read aloud, mendongeng, menulis cerita anak, membuat komik, menggambar bahkan kelas literasi dengan pemecahan kasus yang ada pada sebuah cerita. Aku mencari pengalaman baru untuk meluaskan aksara dari berbagai mentor penulis buku anak maupun ilustrator yang sudah ahli di dunia masing – masing. Ku siapkan hari khusus sabtu dan minggu. Yang tak mengganggu hari padatku di sekolah. Semua kulakukan untuk meningkatkan kosakataku.

Tak lupa ku menyempatkan membaca meskipun hanya beberapa lembar setiap hari, karena kesibukan sekolah dan les yang aku miliki tak menjadikan alasanku untuk meninggalkan membaca. Kuciptakan semedi menulis yang rutin  untuk mengembangkan ideku. Yang aku takutkan bukan karena tulisanku jelek tetapi melainkan tulisanku tidak selesai, jadi tamat adalah target utamaku. Jadi tidak ada alasan kita tidak membaca atau menulis karena tidak ada waktu. Kupernah membaca caption Dee Lestari “Orang – orang kreatif yang sukses biasanya berhadapan dengan isu kurang waktu, bukan kurang ide.”

Gejolak pribadiku tentang menulis memang dari kebiasaanku dengan dunia tulisan dan literasi. Tentu saja tentang menulis menjadi biasa, karena saat ini ku sedang menikmati gejolak asik menulis cerita, semua aku tulis dengan bebas sesuai gaya dan imajinasiku. Yahhhhhhh karena terkadang aksara tak butuh jadi pemanis kata, yang hanya membuat kita terpana bahkan terpesona, lalu lupa! aksara hanya ingin menjadi makna. Ya, bermakna bagi jiwa, bagi kita agar mampu berguna bagi sesama.

Aksara, kau memang ditakdirkan menjadi sekumpulan kata, Meski kadang tanpa makna, kau terus berkuasa atas segala isi dunia. Tapi percayalah, aksara yang ingin kugores pada secarik kertas putih ini Menjadi kata yang keluar dari isi jiwa, pengalaman, perjuangan tiada putus asa. Kamu seorang siswa, menulislah. Kamu seorang guru, menulislah. Kamu seorang polisi, menulislah. Kamu seorang tentara, menulislah. Kamu seorang dokter, menulislah. Apapun profesimu maka Menulislah dan lihatlah bagaimana menulis mengubahmu menjadi sosok yang baru.

Menulislah mulai dari sekarang.

Ikan bakar tanpa merica

Di makan bersama sambal terasi

Rajinlah menulis dan membaca

Menghasilkan aksara imajinasi.

AKU BERPUISI





AKU BERPUISI

Dalam diriku ada mentari
Sejuta  asa berbinar – binar  
Setiap pagi datang menghampiri
Bersamanya sekolahpun riang kulalui

Kisahku saling melengkapi
Meski, sulit untuk di mengerti
Namun semua  mudah kulewati
Untuk bernafas bagai melati

Ingin rasanya kupanjat langit
Kutitipkan setiap jejak memoriku
Tentang perjuangan hidup dan impianku
Dengan berbagai rasa manis dan  pahit

Aku....
Berjuang menggapai harapan
Terus bergerak tak menghiraukan keraguan
Agar kelak harum di tujuan
Aku berpuisi...
Penuh syukur pada kehidupan

Senja pun mulai sirna
Saat langit cerah berganti warna
Yang penuh akan cahaya
Ribuan huruf menanti tuk kubaca
Kini malampun telah datang
Ditemani terangnya senyuman bintang
Sehelai rambutku berdiri melesat terbang
Tertiup angin dinginya malam

Aku...
Takkan menyiakan waktu
Selalu sujud dalam lima waktu
Suatu saat habis usiaku
Aku tetap ada dalam puisiku
****

SEPASANG BOLA MATAKU MENJADI PENGAWAL LANGKAHMU

               Aku melihat wajahmu membawa senyuman itu. Serbuk cahaya memancar di wajahnya. Rona hangat  tertahan. Ia menatap lurus kedepan serasa tergesa – gesa, tanpa memperhatikan sekelilingnya. Langkah kaki itu berotasi sangat cepat di atas tanah seakan-akan tanah itu adalah awan lembut.

            Sepasang bola mata gadis kecil yang berbaris  senantiasa tajam mengawalnya. Di situ ku berdiri dengan meneteskan air mata basah penuh makna bahagia, sejujurnya hati kecil ini ingin mendekat, ingin melangkah tapi tak tahu arahnya kemana. Entahlah…mungkin sekujur tubuh terbuat dari jutaan bongkahan es  yang membeku?

Terkadang pertemuan kita seperti arah mata angin, pandangan kita hanya di pucuk bulu mata, meskipun tidak ada isyarat untuk menunggu bertegur sapa , tapi entah mengapa senyuman ini masih tetap bertahan untuknya. Bayangan ku seolah menjadi alarm pengingat semangatnya.

Dan untuk itu aku mengagumimu Bu.Guru baju biru, Bahagia ini ketika hari demi hari ku mengukir rasaku lewat kata – kata ini, Melalui  bait – bait manis  yang terkesan sungguh nyata. Tanpa kusadari kekagumanku tak mau pergi, semakin lama layaknya seni yang bercorak warna warni.

Semesta juga mengijinkanmu datang, setiap ku butuh kosakata bantuan untuk menambah wawasan, terkadang terselip gejolak jenaka untuk menghidupkan kebahagiaan. Untuk berbaju dan berkerudung biru tetaplah kamu teguh, menyenangkan, menenangkan dan damai di antara derasnya arus deadline kehidupan.

Maaf atas pengawal langkahmu dengan tanpa sepengetahuanmu kedua bola mataku terpancar mengagumimu, berharap lihat aku sebentar bukan untuk mendapat pujian tapi pancaran semangat perjuangan.

Teacher My Friends

Sinar matahari yang masuk menembus gorden pertanda sudah memasuki waktu pagi. Cuaca hari ini begitu sejuk, angin yang berembus  mengenai wajah begitu lembut, sepoi – sepoi membuat dedaunan menari – nari sangat indahnya.

Sungguh segar acar mentimun

Sebelum makan ku ucap Bismillah

Kita  harus selalu jaga imun

Supaya bisa belajar di sekolah

***

Si Kipli hewan berbulu

Membaca buku untuk mendapat ilmu

Aku rindu sekolahku

Rindu bertemu Bu guruku

***

Aku sudah terlihat rapi dengan seragam SD baru, setelah selesai sarapan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam. Pancaran semangat bersinar di wajahku. Karena, hari ini  pertama masuk  ke sekolah selama Pandemi covid 19.

“ Bu….! Kinan sudah siap berangkat “ sambil menghampiri Ibu yang memanasi mobil.

“ Iya, Nan, ayo kita berangkat “ ujar ibu.

“ Eittss… sebentar Bu, botol minumku ketinggalan “ Seruku sambil berlari menghampiri meja makan.

“ Nan, sini sebentar!”

“ Kalau pakai masker yang benar, miring – miring begini? Sini Ibu betulkan “ seru ibu.

“ Sudah, ayo kita berangkat “ ujar ibu.

Aku bergegas masuk kedalam mobil dengan sangat semangat.  Alasan membuatku bersemangat, karena segera ingin bertemu dengan teman – teman baru dan Bu guru. Sepanjang jalan ku tak berhenti memikirkan akan bertemu dengan Bu.Firoh. Yups ..beliau Bu guru TK B yang mengajarku secara daring selama pandemi. Letak sekolahnya bersandingan, tak lama kemudian sampailah di depan Sekolah AL –YA’LU Superior Elementary School.

“ Assalamu’alaikum!” sambil ku mencium tangan Ibu..

“ Wa’alaikumsallam, Semangattttttttt!” ujar ibu.

Ku buka pintu mobil dan melangkahkan kaki penuh riang menuju kelas, Sudah ada Bapak dan Ibu guru yang menyambut di depan untuk mengarahkan melakukan cuci tangan dan mengukur suhu tubuh.

“ Kinanti kelas berapa “ seru bapak setengah baya mengenakan baju batik sangat ramah.

“ Kelas satu, pak! “ ujarku.

“ oke, Kinan jalan lurus saja nanti ada ruang kelas satu, nah itu kelas Kinan” ujar Bapak itu.

“ Baik, pak terimakasih”  jawabku.

“ O iya, kalau boleh tahu nama Bapak siapa? “

“ Nama Bapak, pak Aan!” jawabnya.

“ Makasih Pak Aan” Kinan terus  melangkah menuju kelas.

Sesampainya  di kelas Kinan menuju bangku yang kosong di barisan depan  tepat di sebelah Gisel. Tak lama kemudian terdengar derapan langkah menuju kelas, semua murid duduk di kursi masing – masing dengan tegak dan rapi.

“Assalamualaikum anak –anak “ seru Bu Halijah.

“ Waalaikumsallam Warochmatullah wabarokatu” jawab serentak semua murid.

“ How are you”

“ Iam Happy thank you and you “ seru  murid dalam kelas .

“ Iam Happy too “  jawab Bu Halijah.

“ Seperti biasa sebelum kegiatan belajar dimulai kita membaca Doa bersama –sama, ayo siapa yang akan memimpin Doa?” Tanyanya

“ Kinan Bu!” Seruku dengan mengangkat tanganku tinggi – tinggi.

“ Ayo semua siap grak, duduk rapi” teriak tegasBu.Halijah.

“ My friend are you ready” seruku.

“ yessssss, iam ready” jawab serentak semua murid.

“Hands up, lets pray before learning” seruku.

Setelah selesai berdoa, keseruanpun dimulai, Bu Halijah mulai mempresentasikam materi tentang Pengalaman Diri dan menyuruh murid – muridnya untuk membuat rangkuman di buku tulis.

“ Bu Halijah! saya lupa tidak membawa pensil” teriak Mirza.

“ Kok bisa lupa  itu bagaimana to nak! “ ujar Bu Halijah menghampiri Mirza meminjami pensil.

“ Bu Halijah! buku saya ketinggalan!” seru Dina.

“ Sebelum berangkat di cek kembali ya bawaanya” Bu Halijah memberinya selembar kertas.

“Kinan! tulisanku salah, tapi lupa gak bawa penghapus” bisik rifki

“Ini pakai penghapusku” jawab kinan pelan meminjamkan penghapusnya.

Bu Halijah guru yang  very friendly, selalu seru dengan celetuk akrabnya bersama murid – muridnya. Selalu semangat menjelaskan materi sampai semua muridnya mengerti.

“ Bu, Halijah, Kinan izin ke toilet!” seru Kinan menghampiri Bu guru.

“ Silahkan, cepat kembali ke kelas” jawab Bu Halijah.

“Baik bu…!” serunya.

Ada yang memanggilku dari belakang, setelah kutengok ternyata Gisel.di sepanjang jalan ke toilet ku intip beberapa kelas yang kulewati, sreettt kulirik ruang kelas 2, wah Pak Krisna dengan beberapa muridnya  memeragakan gerakan olahraga di depan kelasnya.Terlihat mereka sangat menikmati keseruan belajar.

Ku melihat sekeliling terkejut dengan antrian panjang di depan toilet, Gisel menekuk beberapa jarinya sampai berbunyi, untuk menghilangkan kebosanan menunggu antrian. Akhirnya ku bercerita padanya setelah pulang sekolah akan bertemu dengan Bu.Firoh. Kuceritakan semua kedekatan pengalaman masa TK  yang seru bersamanya, Gisel pun merasa penasaran dengan Bu.Firoh.

“ Gisel jangan melamu! Buruan masuk toilet”  seruku mengagetkanya.

“ Ah… lega sekali” gumam Gisel sambil menarik tanganku.

Lariiiiiiiii……kita bergegas menuju kelas dengan berdebar – debar membayangkan wajah merahnya Bu Guru karena terlalu lama ke toilet. Terdengar suara bersautan dari dalam kelas, sepertinya ada quiz dari Bu guru.

“Assalamualaikum …!” seruku bersama Gisel saat masuk kelas.

“ Waalaikumsallam” Jawab Bu guru.

Baru saja ku menempati tempat dudukku, tiba – tiba lentingan suara menunjukku.

“ Kinan…! sebutkan contoh pengalaman yang tidak menyenangkan?” Bu Halijah menghampiriku sambil tersenyum.

“Di marahi  Ibu ……..” jawabku dengan cepat.

Serentak teman- teman menertawakanku, di  bangku paling ujung ku menatap Rifki yang juga ikut tertawa sambil memberi jempol kepadaku, aku pun tersenyum padanya.

Yeay!

Akhirnya jam pulang sekolah datang juga. Yup, saat ini adalah hari yang kunantikan selama 2 tahun pandemi.

Tiba – tiba gisel berbisik padaku,  “Nan lihat itu ada Bu.Firoh.

Ku tengok di sudut pintu kelas, terlemparlah senyumnya padaku. Murid – Murid berlarian keluar kelas dengan sangat riang membawa pulang ilmu yang diberi oleh Bapak dan Ibu guru. Tak lama kemudian, Bu guru cantik, terlihat manis memakai kerudung pink motif bunga, senyumanya sangat ramah lingkungan menghampiriku. Akupun merasa bahagia bertemu denganya secara nyata, rinduku terasa terobati seketika.

“ Nan, duduk sini  lo!” perintahnya sambil menunjuk kursi di sebelahnya.

Akupun bergegas duduk di sebelahnya, kulihat  beliau memegang  kotak cookies transparan. Diberikanlah padaku kotak transparan yang berisi semut rang – rang, yachhh… memang pernah ku berdiskusi dengan beliau, penasaranku terhadap semut rang – rang yang membesar di benakku.

“ Nan, apakah pengamatan semut Rang – rang akan berlanjut “ seru Bu.Firoh

“ InsyaAllah, Bu..!karena  aku sangat penasaran sekali, dengan sarang, dan macam semut Rang – rang” jawabku.

“ Kinan, sudah di jemput Ibu di depan” Kata Bu. Halijah.

“ Baik Bu!” jawabku

“ Bu Firoh, Kinan pulang dulu ya, terimakasih untuk pengalaman seru hari ini” ucapku.

“ Okey… sama – sama kinan “ jawab Bu.Firoh.

“ Setelah pengamatan, Di buat cergam ya” usulnya.

“ Siap! Assalamualaikum” seruku sambil ku mencium tanganya.

“ Wa’alaikumsallam “ Jawab beliau.

Akupun bergegas pulang dengan membawa sejuta impian, kebahagiaan, menikmati momen kebersamaan, kenangan akan tersimpan sebagai persahabatan. Dan 1 bulan kemudian selesailah cergam buatanku yang berjudul Rang – rang Si Koki Hebat.

Pesona Emak Indonesia

Derapan langkah kakimu, menggendang di telingaku sebelum ayam berkokok. Sentuhan halus tanganmu tidak ketinggalan mendarat di keningku dan membelai rambutku, sering kurasakan bibirmu yang menancap di keningku.

” Nan, ayo bangun sudah setengah lima, sholat subuh yuk !” seru Ibuku yang Setiap hari menjadi alarm hidup bagiku

“ Aaaaaa Silau “ sambil ku menggeliat dan memandang sorotnya lampu kamarku, dan bergegas bangun menuju kamar mandi, kemudian bergegas ke ruang mushola dalam rumahku untuk menunaikan sholat subuh.

Namaku kinan, aku berumur 6 tahun. Aku berasal dari keluarga sederhana yang sangat Humoris dan ceria, Ibuku bekerja mengurusku setiap hari, ayahku bekerja di jakarta,  jauh dari rumah. Aku anak tunggal yang sangat beruntung yang belum punya adik. Sosok tinggi  berambut panjang, suara melengking penuh semangat itulah Ibuku . Tidak tahu mengapa hati ini mudah sekali nurut pada sosokmu. Dirimu yang ceria, penuh perhatian, juga kasih sayang.

Brakkkkkkk !!!!  Ku hampiri suara itu, ternyata si chilik, seekor kucing kecil yang ku ambil dari jalanan waktu bersepeda pagi, untuk aku rawat. Ternyata dia bermain dengan boneka tikus,  sampai dia menabrak pintu rumah.

Kemudian ku hampiri Ibuku yang sedang menyiapkan bahan untuk memasak.

“ Bu…… kinan bermain bersama chilik sebentar boleh “

“ Iya …. minta tolong di cek sekalian, makanan dan minuman di kandang si Kipli dan Lingling, kalau habis kinan tambahin makananya dan ganti air minumnya ya….!!!! “

” siap, oke bu “ jawabku semangat

Setelah selesai bermain, ku membantu Ibu memasak. Memotong-motong sayuran  dan kawan-kawannya. Aku melirik Ibuku  yang sedang fokus mengaduk nasi di panci. Lalu aku  bersiap menanyakan sesuatu pada ibu. Sambil berdoa dalam hati semoga pertanyaan yang akan kuluncurkan tak membuat nya marah .

“Bu, kapan aku dibelikan ponsel?”

“Nanti kalau sudah kelas 3 “ jawabnya singkat sambil memasukkan nasi ke dalam dandang. Kemudian ibu menoleh kepadaku

” Memangnya ipad itu kenapa?” Telunjuk Ibuku  mengarah pada ipad  yang tergeletak di meja. “ sambil melempar tatapan curiga kepadaku.

Yachhh memang, selama ini aku terdidik tanpa game di ponsel, aku mempunyai ipad yang di belikan oleh ayahku semenjak aku TK,  tapi semua terpantau oleh ibuku. Hanya aplikasi Room To Read, gramedia digital, youtube, dan aplikasi KBBI. Sempat aku mengutarakan Ingin bermain game  dengan ponsel seperti teman – temanku. Tapi ibuku belum mengijinkan. Dengan alasan anak kecil mudah terpengaruh dengan game dan akan lupa waktu. Akupun tak bisa berkata apa – apa karena jawaban Ibuku hanya “ tidak” .

Aku bergegas mandi, setelah kulihat menu sarapan sudah tertata lengkap di meja makan. sayur bayam, botok tahu dan ikan pindang. Setelah selesai kita sarapan bersama dan mulai aktifitas  belajar bersama.

“ kinan, sudah lihat jadwal hari ini “ tanya Ibuku

“  Sudah bu “ dalam hatiku jadwalku hari ini panjang seperti gerbong kereta ada jadwal membaca cerita bahasa jawa, ada deadline menulis puisi.Hadehhhh sebenarnya pusing sih tapi nanti kena semprit ibuku, jadi aku senyum – senyum aja .

“ ayo kita mulai “  Teriak ibuku

Seperti biasa, sebelum sekolah Daring. Ibukku memanduku untuk melakukan senam supaya badanku tidak kaku dan sehat, kemudian aku mengerjakan semua tugas sekolah mulai menonton video materi, merangkum materi, sampai mengerjakan quiz semua aku kerjakan sendiri. Ibukku hanya sebagai satpam yang mondar mandir sambil sesekali melihat pekerjaan sekolahku.

“ ayo ini di hapus “ sambil menunjuk tulisanku yang  segede biji jagung

Aku hanya tersenyum sambil berkata dalam hati kok ya ketahuan xixixixi, meskipun ibuku sering begitu tapi aku merasa senang karena ibuku selalu perhatian padaku, setiap secuil kesalahan selalu memberi perbaikan padaku. Ku tengok sejenak di catatan alarm ibuku di sepotong kertas mini yang bertuliskan, 16.00 – 17.00 membaca cerita di letsreadasia baca cerita yang menggunakan bahasa jawa. 18.30  deadline menulis puisi tentang Budi Utomo.

Ku tepuk jidat ku sambil berkata dalam hati “ kaum deadliners  harus beraksi “.  Ibuku  ini emak super, pernah ku mengamati betapa  sibuknya ibuku ,  bangun tengah malam   sudah ribut dengan suara panci, alunan musik peralatan dapur sutil dan wajan seperti tak bisa lepas dari rutinitasnya. Belum lagi suara mesin cuci wung …wung…wung . Dan hangatnya aroma uap setrika, Tapi masih semangat mendampingiku membaca dan belajar. Tak lupa mengingatkanku sholat 5 waktu supaya tak terlewat.

Setelah kegiatan sekolah dan tugas – tugas selesai, kuberdiri di depan jendela mushola . Menatap sejuknya awan yang mengeluarkan rintikan hujan yang membuatku tersenyum dan menghirup segarnya udaranya.

“ Nan, setelah sholat  ashar jangan lupa membaca ceritanya !”

“ Baik bu “ jawabku dengan singkat”

“ Kita baca berdua ya bu “ kataku

“ Boleh, ayo kita membaca bersama “ jawab ibuku sambil mendekatiku

Kita duduk bersebelahan di depan laptop. Kemudian memulai memilih cerita javanese dengan  judul Arep Digawa menyang Endi ? , akupun tertarik dengan cerita yang di tulis oleh  Intan Tri Istanti.

“Sreg … sreg … sreg …. Tukik-tukik wiwit netes. Pesisir! Segara! Kabeh tukik kudu mrana! Plung! Plung! Plung! Untunge, tukik-tukik wis nyemplung ing banyu. Oh! Oh! Tukik arep digawa menyang endi? Tuluuung!. Itulah sepenggal cerita yang aku baca. Seru sekali, sesekali ku melihat wajah ibuku tersemyum mendengar logat bacaku yang lucu karena baru pertama kali berbahasa jawa. Kemudian ibuku menjelaskan arti cerita itu, supaya aku paham ceritanya.

Hujan semakin deras saja malam ini, Waktu itu tepat tanggal 3 oktober, aku di perlihatkan informasi lomba menulis periode oktober 2021. Yaitu lomba mengarang puisi dengan tema

“ UNTUK INDONESIA : Sebuah Kisah, Cita – cita dan Harapan “ 

 “ Kinan ada tantangan membuat puisi, berani mencoba itu keren lho” kata Ibuku

Aku mencoba membaca dan mengamati semua informasi yang ada di persyaratan lomba tersebut. Kemudian Ibuku memberiku begitu banyak cetakan materi tentang puisi, majas, sejarah Budi Utomo sampai Sumpah Pemuda.

“ Aduhhhhh banyak sekali ini materinya, membuatku semakin pusing “

sambil ku membaca dan memberi tanda, kosakata sulit dengan menggunakan stabilo. Kemudian aku merangkum dan mencari artinya di kamus KBBI. Pertama kali membaca baru lembar pertama sudah mendapat kosakata yang belum aku mengerti yahhhh itu adalah Propaganda . Kemudian aku mencari di KBBI. Entah kenapa mataku tertuju dengan tulisan biru yang terbaca tesaurus.

Ahaaaa aku kan punya Ibu kedua  yang bisa aku tanya, ku kirimkan pesan suaraku yang imut ke Bu Guruku.

“ Tesaurus juga tautan link kamus, Nan “

“ Yaitu makna kata sesuai kaitan maknanya. Coba nanti kinan klik ya “

“ Langsung di klik ya kinan “ begitu pesan suara Bu Firoh

“ owalah – owalah ternyata link itu alamat websitenya ya Bu Firoh, baru tahu aku “ balasan pesan suaraku

Di waktu malam itu pusingku berkeliling, Bu Firoh menghiburku dengan banyak mengirim gambar hati  yang lucu – lucu.

“ Bu Firoh itu gambar peluknya so so so cocok banget untuk kita, karena Bu Firoh suka warna biru, kinan suka warna pink. Jadi yang baju biru Bu Firoh yang baju pink itu Kinan “

“ jadi sama – sama gendutnya dong “ ku kirim pesan suara sambil ketawa

“ Sepanjang gerbong Naaaaaan…. ketawanya “ jawab pesanya dengan stiker yang sangat panjang sepanjang gerbong.

Aku mencoba konsentrasi, membaca dari berbagai sumber tentang kisah heroik Budi Utomo dan Sumpah Pemuda. Akhirnya aku menemukan judul yang aku suka. Sebelum ku memulai menulis, tiba – tiba yachhhhh aku merasa lapar .

“ Bu aku mau makan, lapar ?”

“ Ini sudah malam lo nan, Ibu sudah gak punya sayur “ jawab Ibuku

“ Ayam goreng penyet aja Bu! “ kataku setelah membuka kulkas ada ayam yang udah di bumbuin tapi belum di goreng.

Ibuku mencoba tersenyum menahan marah, giginya gemerutuk menahan emosi,  karena sudah larut  malam, aku memesan makanan di sela waktu istirahatnya.

“ sudah matang nan, ayam penyetnya, di makan dulu keburu dingin “ perintah ibuku

“ Terimakasih Bu “ sambil kudaratku bibirku di pipinya

“ Sama – sama “ jawab ibuku

Alhamdulillah aku merasa lebih segar setelah makan malam, aku bisa fokus untuk mencari inspirasi dan merangkai kata – kata. Aku bahagia sekali mempunyai dua emak super, super keren, super sabar, super gokil, super power, super membimbing dan super menghibur. Pesona emakku terpancar ke seluruh tubuhku Nasehat baiknya selalu aku ingat. Ibuku sering berkata kepadaku.


“Nan…. teruslah berusaha dan belajar untuk menjadi orang yang ikhlas. Ikhlas dalam segala hal , ikhlas belajar, ikhlas berbagi keceriaan, karena ikhlas itu bagian dari bahagia nan. Tidak ada kebahagaiaan yang dapat mengalahkan rasa bahagia  dari sebuah keikhlasan.”

Ibu, semoga ikhlasmu merawat dan mendidik ku,  menjadi sebuah kebahagianmu sepanjang waktu.

Naik pesawat ke Maluku

Tidak lupa membeli talam sagu

Ibu begitu indah telapak kakimu

Di sanalah tempat surgaku

                                                                        ***

I love U  Ibu.

SANG LITERASI CILIK

Namaku gusti kinanti
Murid sang guru literasi
Kebanggaan ibu pertiwi
Pejuang literasi yang abadi

Malam semakin larut dan aku belum berhasil memejamkan mata. Sesekali angin malam menembus kulitku, kuusap sweeter panjang yang aku kenakan.Untuk memberi rasa hangat, di tubuhku yang mungil ini. Ku duduk bersila tepat di depan meja kayu lipat kecilku.Yang sudah sedikit bergoyang satu kaki mejanya. Di temani lampu sorot belajar yang memberiku penerangan.Saat Kubaca lembar per lembar buku yang berjudul, Kereta Malam Menuju Harlok yang di tulis oleh bunda Maya Lestari GF.

“ Belum ngantuk?”, ibuku menghampiriku, duduk di sampingku
Aku menggelengkan kepala sambil memeluk buku yang sedang aku baca.
Sejak kecil usiaku belum beranjak 5 tahun, aku mulai dikenalkan dengan literasi yang sederhana yaitu belajar membaca, ku mulai dengan satu lembar satu hari, kemudian meningkat menjadi dua lembar sehari. Sampai buku yang aku baca selesai. Aku menjadi sangat lancar membaca, tidak berhenti sampai di satu buku. Ku melanjutkan membaca buku tentang Fauna Pedia. Karena ketertarikanku tentang hewan sangat besar.
Di situ aku mengenal banyak kosakata baru, dan nama latin dari berbagai macam jenis hewan di Dunia. Selain membaca, aku di biasakan oleh ibuku untuk belajar menulis, aku ingat sekali tulisan pertamaku yang aku tulis di masa TK A, kalimat sederhana di buku halus. Bu Susan sarapan pagi, Bu Firo memakai kerudung bunga, Bu Husna membeli sepatu baru. Saat itu aku sudah bisa menulis sangat bahagia sekali.
Aku berlatih menyalin bacaan dari berbagai buku, terkadang ibuku yang membacakan, kemudian aku belajar menyimak dan menulisnya supaya bisa lebih lancar lagi membaca dan menulis. Setiap hari aku selalu mendapat jadwal rutin membaca dan menulis dari ibuku.
Setelah beranjak TK B, aku masih tetap dengan jadwal rutinku. Membaca dan menulis, ibuku juga mengajakku di sela – sela jam kosong untuk mendongeng dengan boneka tangan.
“ kinan, mau bermain seru sama ibu gak nih?”
“ mainan seru apa bu “ seruku
“ kemarin kan baru membeli boneka tangan binatang gajah, ayo mendongeng bersama” kata ibuku
“ ayooo…..ayooo” ku jawab lantang dan penuh gembira. Ku cepat berlali menggambil semua boneka tanganku dan mendongeng bersama ibuku.
Senang rasanya aku memiliki ibu seperti itu, yang selalu bisa bermain dan belajar bersamaku, ibuku juga sering membacakan buku dan dongeng sebelum tidur untukku. Bahkan mendampingiku membaca nyaring cerita, di Room to Read. Aku suka sekali baca buku cerita, membaca nyaring dan melihat video cerita di literacycloud.
Nah setelah aku berusia 5 tahun, aku rutin mengikuti kelas online Selingkar ( Sekolah Literacy Sayang keluarga ). Kegiatanya sangat seru dan asik setiap aku mengikutinya. Karena selalu di bacakan dongeng, kemudian menggambar sesuai imajinasiku, menyimpulkan cerita dongeng, bahkan sampai membuat infografis dari cerita dan mempresentasikanya.
Di masa TK B juga aku di pertemukan dengan guru di sekolah. Entah kebetulan atau sudah memang jalan hidupku, ibuku di motivasi untuk mencoba mengajariku, membaca buku cerita tanpa gambar. Kemudian menulis cerita tentang semua pengalamanku. Setiap tugas sekolah beliau selalu meneropong dan mengoreksi tulisanku ada yang kurang satu huruf atau lupa memberi tanda titik di akhir kalimat.
Tak lelah membimbingku belajar mengenal tanda baca dan huruf besar setelah tanda baca. Merangkum sebuah materi, mencari arti kosa kata asing dalam materi. Sampai memotivasiku untuk belajar menulis cerpen. Dengan selalu mengoreksiku dan mengingatkan kosakataku yang tidak sesuai KBBI. Setiap hari kegiatanku menulis di buku harianku, terkadang aku di beri latihan menulis dari lucky note oleh guruku. Untuk meneruskan cerita dari awal paragraf yang beliau kirim melalui w.a ibuku. Menjadi sebuah cerpen yang bisa membuatnya tersenyum.
Dari kegiatan rutin bersama guruku itu aku semakin percaya diri untuk menulis ceritaku sendiri, aku terus berlatih meskipun berawal dari cerita harianku, yang aku tulis di blog pribadiku. Ataupun di buku tulisku yang di susun rapi oleh ibuku. Aku juga mempunyai target, semangat membaca dua hari satu buku. Supaya aku memiliki banyak kosakata baru.
Guruku terus bersemangat membimbingku, beliau sangat keren dan hebat tidak hanya memancingku untuk memulai belajar menulis cerita tapi juga memberi pengalaman untuk mencoba berbagai lomba menulis cerpen, membaca monolog dan membaca puisi.
Suatu ketika guruku berbagi cerita tulisanya di Gurusiana, aku mulai penasaran untuk membacanya, setiap hari aku teropong di waktu luangku di jam istirahat setelah selesai sekolah online. Setiap ada cerita yang baru yang beliau tulis aku selalu membacanya bersama ibuku.
Cekring….suara hp ibuku berbunyi, ibuku melihatnya. Ada link lomba menulis siswa MediaGuru ( Agustus 2021 ) yang di kirim oleh guruku.
“ Ayo nan…. kelas 1 SD siapa takut ?” seru bu guruku dalam chatnya, kubaca chat bu guruku sambil kutersenyum.
Kemudian aku baca link lombanya, kebetulan sekali aku mempunyai banyak kenangan bersama bu guruku apalagi kalau urusan sama Rindu pasti aku sangat rindu berat denganya. Kemudian aku meminta bantuan kepada ibuku untuk membuat email, memakai namaku sendiri. Setelah aku memenuhi syarat pertama yaitu mempunyai akun di sasisabu. Ku mulai aktif menulis cerita di sana, sangat senang sekali aku bisa berbagi cerita di sasisabu, meskipun ceritaku masih banyak menulis cerita non fiksi. Karena ku masih belajar untuk terus menulis cerita yang lebih baik lagi.
Aku mulai mengumpulkan data – data untuk lomba menulis, Ku buka kembali buku luky note, riwayat w.a bu guruku, bahkan dokumentasi materi sekolah yang tertata rapi di folder laptopku. Ku mulai menulis cerita, apa yang memang aku rasakan. Betapa sangat rindunya aku, ingin bertemu dengan Bu Guruku yang sudah banyak membimbingku. Hanya lewat media HP, tidak membuatnya patah semangat untuk terus membimbingku, untuk menjadi lebih dekat dengan Buku, menjadikan menulis kegiatan rutinku, mengubah bahasaku menjadi lebih halus dan manis di dengar sesuai ketentuan KBBI.
Meskipin aku masih kelas 1 SD, aku bangga dan bersyukur bisa di perkenalkan dengan guruku. Beliau terus membimbingku untuk berliterasi sejak kecil. Akhirnya aku sangat senang sekali, bisa memberi hadiah kepadanya. Hadiah yang sangat berkesan, yang bisa di kenangnya sepanjang zaman. Aku berhasil terpilih dari 100 peserta terbaik di lomba tersebut.
“Bu Firoh kinan berhasil menulis nama kinan, di buku sasibabu MediaGuru, Bapak – Ibu guru, kami Rindu Belajar dan Bertemu”.
“wah selamat ya, kinan hebat “ di pesan chat beliau memberi ucapan selamat padaku. Dan terus memberi dukungan motivasi terbaiknya.
Rasa senang tak bisa ku teriakan, di beri pengalaman literasi yang membanggakan, di usiaku yang belum genap 7 tahun ini. Ku bisa merasakan betapa asiknya berliterasi, tidak hanya sekedar pandai membaca buku, bisa menulis, membaca puisi, membaca monolog, ada rasa unik yang kutemukan di hatiku. Rasa bahagiaku dengan berpantun, bersama guruku membuat perasaanku lebih dekat denganya, menyatukan pikiranku dengan pikiranya, melalui kegiatan berbalas pantun.
Tapi perjalananku, tidak semudah yang aku tulis di cerita ini, banyak sekali halanganya. Mulai sedikit bosan, rasa capek menyelimutiku karena banyaknya jadwal les dan tugas di sekolahku, tapi semua harus kubawa pergi perasaan itu. Apabila kita ada kemauan dan semangat yang besar, kita harus menjalani dengan ceria, riang dan gembira. Kita yakin bisa untuk meluangkan sedikit waktu untuk membaca dan menulis.
Aku pernah membaca ada pepatah sedikit demi sedikit lama – lama akan menjadi bukit. Nah kalau Kita menulis cerita sedikit demi sedikit lama – lama kita bisa menghasilkan sebuah buku dari kumpulan cerita kita. Nah ayo teman – teman kita semangat tekatkan niat, untuk ceria membaca, semangat menulis dan semangat berkarya. Salam literasi.

MENGENANG GARDA TERDEPAN

Pahlawan garda terdepan  

__

Dua tahun yang lalu,  dia datang ke negaraku

Tetapi bukan untuk  bertamu

Wabah hitam melanda dunia, tanda bahaya corona

Merenggut banyak nyawa manusia 

Gunung yang tinggi menjulang, 

Menghembuskan angin yang tak tenang 

Kabut hitam menghantui sudut perkotaan

Mengingatkan bahwa bumiku belum siuman 

Mengenang para pahlawan di garda terdepan

Pantang pulang sebelum corona tumbang

Lelah dan iklasmu untuk menyembuhkan 

Harapanku kau selalu tetap dalam lindungan

Pahlawan di masa corona 

Berpisah dengan keluarga 

Demi kesembuhan penderita 

Lelah tak terjaga 

Cepat pulih bangsaku

Menyambut datangnya dirgahayu

Garda terdepan  jaga kesehatan selalu 

Keluargamu masih sabar menunggumu 

—–

MERDEKA

🙏 SALAM SEMANGAT BERKARYA 🙏